Saturday, March 29, 2008

PERHATIAN! RALAT

salam,

Afwan dalam post sebelum ni INFO: GENERASI ROBBANI
ada kesilapan yang dapat di kesan. Terima kasih pada sahabat yang memberi teguran.
Syukran..

surah al maidah ayat 43 sebenarnya adalah surah al maidah ayat 63.
manakala surah al imran ayat 7 sebenarnya adalah surah al imran ayat 79.

Segala kesulian amat dikesali.

Terima kasih,

Thursday, March 27, 2008

AKHBAR ALAM ISLAMI : Israel Kuasai Dominasi Sumber Air, Rakyat Palestina Krisis Air Bersih

Rabu, 26 Mar 08 17:25 WIB
Kirim teman

Para pakar ahli air mengkhawatirkan akan
terjadi krisis air di Palestina dalam
musim panas mendatang. Terlebih dalam
situasi pemberlakuan isolasi total atas
Ghaza masih terus diberlakukan, dan
rakyat Palestina di Ghaza tidak bisa
memanfaatkan sumber air yang ada di
sejumlah lokasi Palestina.

Menurut pakar air Palestina, Israel kini
menguasai lebih dari 85% sumber air di
Palestina. Sementara pemerintah
Palestina hanya menguasai sebagian
sisanya, dan itupun dikhususkan untuk
berbagai proyek pembangunan untuk
mengantisipasi kekurangan air yang
memang sudah bisa diprediksi akibat
musim panas yang akan datang.

Kepala Forum Hiderologi Palestina,
menegaskan Israel kini memang menguasai
sebagian besar sumber air Palestina dan
memanfaatkannya secara leluasa.
Khususnya di Ghaza, aliran sungai Yordan
dan aliran sungai di Timur. Ir. Sami
Daud dalam wawancaranya dengan Aljazeera
mengatakan, ada 220 komplek perumahan di
Palestina tanpa sanitasi air. Dalam lima
tahun mendatang diperkirakan, akan ada
lebih dari 400 ribu orang di Tepi Barat
yang menderita kekurangan air.

Ia melanjutkan bahwa kekurangan air di
Palestina adalah, sekitar 80 juta meter
kubik air untuk minum, 20 juta meter
kubik untuk tanaman dan 30 juta meter
kubik air untuk pabrik. Jadi total
kekurangan air di tahun 2010
diperkirakan mencapai 280 juta meter kubik.

Daud memaparkan data yang menunjukkan
bahwa penjajah Zionis Israel menguasai
sekitar 524, 7 juta meter kubik setiap
tahun dari berbagai sumber air di
Palestina. Yakni 44 juta meter kubik air
dari sumur di Tepi Barat, 394 juta dari
luar Tepi Barat, ditambah 86, 7 juta
meter kubik setiap tahunnya dari
berbagai mata air di Palestina.

Jika ditilik dari rekomendasi WHO yang
menyebutkan bahwa kadar air yang
diperlukan dalam sebuah rumah adalah 130
liter minimal setiap hari, maka
kehidupan rakyat Palestina jelas dalam
kondisi ancaman besar krisis air dalam
beberapa tahun mendatang. (na-str/aljzr)

quote from bulletin posted by masfahri => http://profiles.friendster.com/12680247

TOKOH: Zaid bin Haritsah

Zaid bin Haritsah, seorang yang dilukiskan oleh para ahli sejarah dengan perawakan biasa, pendek, kulitnya coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek, adalah termasuk pahlawan-pahlawan Islam yang besar.

Sudah lama sekali Su’da, isteri Haritsah, berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Maan. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatanya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya (ayah Zaid) mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. Di waktu ia akan menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan isterinya, menyelinaplah rasa sedih di hatiya disertai perasaan aneh: menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Karena ia harus menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun berangkat meninggalkan kampung itu; Harisah pun mengucapkan selamat jalan kepada isteri dan anaknya ….

Haritsah melepas kepergian isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Isteri dan anaknya pun sangat sedih dalam peristiwa perpisahan itu.

Setelah mereka berdua sampai di tempat tujuan, beberapa waktu kemudian terjadilah musibah yang menimpa penduduk kampung Bani Maan. Kampung itu habis porak-poranda diserang oleh gerombolan perampok Badui. Semua barang berharga milik penduduk kampung itu dikuras habis; penduduknya ditawan dan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.

Dengan perasaan duka, pulanglah Su’da untuk menyusul suaminya seorang diri. Demi Harisah mengetahui kejadian itu, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya segera ia berjalan mencari anak kesayangannya. Padang pasir dijelajahinya, kampung demi kampung diselidikinya. Sesekali ia bertanya kepada kabilah yang lewat; kalau-kalau ada yang tahu keberadaan anaknya tersayang, Zaid. Usahanya itu pun belum menunjukan hasil. Sambil menghibur diri, ia bersyari:

“Kutangisi Zaid ku tak tahu apa yang telah terjadi
Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati?
Demi Allah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya
Apakah di lebah ia celaka, atau dibukit ia binasa?
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya
Bila surya terbenam ingatan kembali menjelma
Tiupan angin yang membangkitkan kerinduan pula
Wahai, alangkah lamanya duka nestapa, diriku jadi merana.”

Ketika kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan berhasil dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan hasil rampokannya. Si kecil Zaid dibeli dibeli oleh Hakim bin Hizam. Pada kemudian harinya ia memberikannya kepada mak ciknya, Siti Khadijah. Pada waktu itu, Khadijah ra telah menjadi isteri Muhammad bin Abdillah (sebelum diangkat menjadi rasul oleh Allah SWT).

Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Muhammad. Beliau pun menerimanya dengan senang hati, lalu segera memerdekannya. Dengan pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anaknya sendiri.

Pada salah satu musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Zaid balik menyampaikan pesan salam rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Kepada para hujaj atau jamaah haji itu, Zaid berkata, “Tolong beritakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia.”

Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah bersama seorang saudaranya. Sesampainya di Mekah, ia menanyakan di mana rumah Muhammad. Setelah bertemu dengan Muhammad, Harisah berkata, “Wahai Ibnu Abdil Muththalib…!, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”

Muhammad merasakan benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tetapi dalam pada itu merasakan pula hal seorang ayah terhadap anaknya. Maka kata Muhammad kepada Haritsah,”Panggilah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya, jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!”

Mendengar ucapan Muhammad yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegirangan karena tak disangkanya sama sekali keluar darinya kemurahan seperti itu, lalu ucapnya: “Benar-benar Anda telah menyadarkan kami dan Anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”

Kemudian Muhammad menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya dihadapannya, beliau langsung bertanya, “Tahukah Engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu,” jawab Zaid.” Yang ini ayahku, sedangkan yang seorang lagi adalah pamanku.”

Kemudian Muhammad mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya.

Tanpa berpikir panjang, Zaid menjawab, “Tak ada orang pilihanku, kecuali Anda (Muhammad)! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!”

Mendengar itu, kedua mata Muhammad basah dengan air mata karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lalu serunya:

“Saksikan oleh kalian semua bahwa mulai saat ini Zaid adalah anakku… yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya.”

Mendengar ucapan itu hati Harits seakan-akan berada diawang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malahan sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan “Ash-Shadiqul Amin”(orang lurus terpercaya), keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.

Meskipun telah sekian lama merindukan anaknya kembali, Zaid dan pamannya pulang dengan hati yang tenteram karena anaknya berada dalam naungan keluarga yang termulia, keluarga Muhammad.

Muhammad telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat, maka menjadi terkenallah ia diseluruh Mekah dengan nama “Zaid bin Muhammad.”

Pada suatu hari yang cerah, seruan wahyu yang pertama datang kepada Muhammad, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan! Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (al-Alaq: 1-5).

Kemudian datang susul-menyusul wahyu berkikutnya kepadanya, “Wahai orang yang berselimut! bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah.” (al-Muddatsir: 1-3)

“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (genggaman) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 67)

Tidak tak lama setelah Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu tersebut, jadilah Zaid sebagai orang yang kedua masuk Islam, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang yang pertama.

Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, sertaiterpelihara lidah dan tangannya.

Semua itu menyebebkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan sahabat-sahabat rasul kepadanya. Berkatalah Aisyah ra, “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah.”

Suatu ketika Rasulullah saw berdiri melepas bala tentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:

“Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Jafar tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Rawahah.”

Sampai ke tingkat inilah kedudukan Zaid di sisi Rasulullah saw. Siapakah sebenarnya Zaid ini?

Ia seorang anak yang pernah ditawan, diperjualbelikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya. Ia seorang laki-laki yang berperawakan pendek, berkulit coklat kemerahan, hidung pesek, tapi ia adalah manusia yang berhati mantap dan teguh serta berjiwa merdeka. Karena itulah, ia mendapt temapat yang tinggi di dalam Islam dan di hati Rasululah saw.

Rasulullah saw menikahkan Zaid dengan Zainab anak makciknya. Sayangnya, pernikahannya tidak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Kesediaan Zainab menikah dengan Zaid hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafaat Rasulullah, dan karena tidak sampai hati menolak Zaid sendiri. Maka Rasulullah saw mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid ini yang telah pecah itu. Rasulullah merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemudian mencarikan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah yang kemudian dinikahkan dengan Zaid.

Karena peristiwa tersebut, terjadilah kegemparan di kalangan masyarakat kota madinah. Mereka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya.

Tantangan dan kecaman ini kemudian dijawab oleh Allah SWT dengan wahyu-Nya yang membedakan antara anak anagkat dan anak kandung atau anak adaptasi dengan anak sebenarnya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:

“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi, ia adalah Rasul Allah dan Nabi penutup. (al-Ahzab: 40)

Dengan turunnya wahyu tersebut, Zaid kemudian dipanggil dengan sebutan “Zaid bin Haritsah.”

Dan sekarang….
Tahukah anda bahwa kekuatan Islam yang pernah maju ke medan perang “Al-Jumuh” komandannya adalah Zaid bin Haritsah? Kekuatan-kekuatan laskar Islam yang begerak maju ke medan pertempuran at-Tharaf, al-’Ish, al-Hismi dan lainnya, panglima pasukannya adalah Zaid bin Haritsah juga? Begitulah, sebagaimana yang pernah kita dengar dari Aisyah ra sebelumnya, “Setiap Nabi mengirimkan Zaid dalam suatu pasukan, pasti ia yang diangkat menjadi pemimpinnya.”

Suatu ketika datanglah perang Muktah yang terkenal itu. Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua bangka secara diam-diam mulai cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang dapat mengancam keselamatan mereka. Terutama di daerah jajahan mereka, Syam (Syiria) yang berbatasan dengan negara dari agama baru ini, yang senantiasa bergerak maju dalam membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria sebagai batu loncatan untuk menaklukan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.

Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tuan terakhir mereka yang hendak menumpas kakuatan Islam dapat tercium oleh Nabi. Sebagai seorang yang ahli strategi, Nabi memutuskan untuk mendahului mereka dengan serangan mendadak sebelum diserang di daerahnya sendiri.

Demikianlah, pada bulan Jumafil Ula, tahun yang kedelapan Hijriah, tentara Islam maju bergerak ke Balqa’ di wilayah Syam. Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedangkan laskar Islam mengambil posisi di dekat negeri kecil yang bernama Muktah yang kemudian dijadikan nama pertempuran ini.

Rasulullah saw mengetahui benar arti penting dan bahayannya peperangan ini. Oleh sebab itu, beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertakarub mendekatkan mendekatkan diri kepada Ilahi, sedangkan di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela agama. Tiga orang pahlawan itu adalah mereka yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah, yang mengharap semata-mata ridha Illahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak.

Mereka bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah rela kepada mereka dan menjadikan mereka rela kepada-Nya, serta Allah merelakan pula seluruh sahabat lainya.

Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat, “Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Harits sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan senadainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh Abdullah bin Rawabah.”

Ja’far bin Abi Thalib dijadikan orang yang kedua setelah Zaid, meskipun keberanian dan ketangkasanya serta keturunan dan kebangsawanannya tidak diragukan lagi, bahkan orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi hubungan keluarga, sebagai anak pamannya sendiri.

Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul dalam mengukuhkan suatu prinsip. Islam sebagai suatu agama baru mengikis habis segala hubungan lapuk yang didasarkan pada darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang batil dan rasialisme. Islam mengganti sistem-sistem yang tidak baik itu atas bimbingan dan hidayah Ilahi yang berpokok kepada hakikat kemanusiaan.

Ketika Rasulullah memilih mereka bertiga untuk menjadi pemimpin pasukan secara berurutan, seolah-olah beliau telah telah mengetahui secara ghaib tentang pertempuarn yang akan berlangsung. Beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu lalu Ja’far, kemudian Ibnu Abi Rawahah, ternyata ketika mereka menemui ajalnya, pulang ke rahmat Allah sebagai syuhada, sesuai dengan urutan itu pula.

Demi Kaum Muslimin melihat tentara romawi yang jumlahnya menurut taksiran tidak kurang dari 200.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duka sama sekali, mereka terkejut. Tetapi kapankah pertarungan yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?

Ketika itulah, disana, merek amaju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh. Didepan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah SAW. maju menyerbu laksana topan, dicelah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu mereka mencari apa yang telah dijanjikan Allah, yaknitempat pembaringan disisi Allah, karen sesuai dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang Mu’min dengan surga sebagai imbalannya.” (QS. at-Taubah: 111)

Zaid tak sempat melihat pasir Balqa’, bahkan pula keadaan bala tentara Romawi, tetapi ia langsung melihat keindahan taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa irulah hari istirahat dan kemenanggannya.

Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menbas, membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyala membuka pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya kekampung kedamaian, surga yang kekal disisi Allah.

Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir. Rohnya yang melayang dalam perjalannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tidak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.

Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, karena melihat panglima yang kedua Ja’far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum jatuh ketanah.

Sumber: Diadaptasi dari Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid

Wednesday, March 26, 2008

SEMASA: The fool of April fool

Setiap kali menjelang 1hb April, sesetengah
orang kita begitu taksub dengan
budaya 'pandang kebarat' menjadi
begitu sibuk sekali.
Kepala mereka penuh dengan senarai
mangsa-mangsa untuk dipermain-mainkan.

Yang penting mereka puas melihat muka
mangsa-mangsa mereka merah padam
kerana dipermain-mainkan.

Berbalik kepada perayaan April Fool's
Day ini, adalah dipercayai bahawa ia
mula dirayakan sewaktu kejatuhan
kerajaan Islam di Sepanyol. Setelah
bertapak berkurun-kurun lamanya di
Granada, Sepanyol, kerajaan Islam
akhirnya runtuh diserang tentera-
tentera Kristian.

Ketahuilah Islam dibawa ke Sepanyol
oleh sahabat Nabi s.a.w. :Tariq bin
Ziyad r.a. bersama bala-tentara para
Muslimin(sahabat r.ahum) Mereka
berdakwah kpd Kafirin di Spanyol dan
Islam tersebar ke seluruh Spain.

Menjelang masa... orang-orang barat
Kristian/Yahudi kurang senang dgn
kemajuan Sepanyol dari segi sains dan
ilmu. Ketahuilah bahwa Universiti
pertama didunia dibina oleh kaum
Muslimin di Sepanyol !!

Maka mereka
sering serang Sepanyol tetapi gagal
kerana iman dan amal kaum Muslimin
begitu teguh sekali.

Mereka selalu ikuti ajaran2 Al-Quraán.
Islam kata solat mereka solat, tutup
aurat mereka pakai tudung denqan juga
tidak berzina dan minum arak. Kerana
itu bantuan allah sentiasa bersama
kaum Muslimin di Sepanyol.

Maka setelah beratus tahun lamanya..Muslim
Sepanyol mulalah lemah. Orang barat
tahu selagi kaum Muslimin ikuti ajaran
Al-Qurán mereka tiada boleh takluki
Sepanyol.

Maka mereka hantar arak
secara percuma ke Sepanyol..wanita2
joget(belly dancers), menyebarkan cara
gaul bebas dan sebagainya. Lama-
kelamaan kaum Muslimin termakan juga
perdayaan barat itu.
Ramai antara muslimin/muslimat kaum
muda Sepanyol terpengaruh dgn ala cara
hidup barat hingga minum, zina dan
sebagainya.

Mereka terlalai dgn maksiat dan lupa pd Allah swt. Di saat-
saat inilah bila Muslimin Sepanyol
telah lemah maka tentera Barat serang
Sepanyol dan akhirnya menang dan
menakluki Sepanyol setelah Islam di
Sepanyol selama 600 - 800 tahun.
Penduduk-penduduk Islam di Sepanyol
(the Moors ) terpaksa berlindung di
dlm rumah masing-masing untuk
menyelamatkan diri.

Tentera-tentera Kristian bagaimanapun tidak berpuas
hati dan berusaha untuk menghapuskan
orang-orang Islam dari Sepanyol.
Penduduk-penduduk muslim ini,
diberitahu bahwa mereka boleh berlayar
keluar dari Sepanyol dengan selamat
bersama-sama barang-barang keperluan
mereka dengan menggunakan kapal-kapal
yang berlabuh di perlabuhan.


Orang-orang Muslim yang risau
sekiranya tawaran tersebut merupakan
suatu penipuan, telah pergi ke
perlabuhan untuk melihat kapal-kapal
yang dimaksudkan. Setelah berpuas
hati, mereka membuat persiapan untuk
bertolak.

Keesokan harinya: ( 1 April ), mereka mengambil semua
barangan yang telah disiapkan lalu
menuju ke perlabuhan.
Pada masa inilah pihak Kristian
mengambil kesempatan untuk menggeledah
dan kemudian membakar rumah penduduk-
penduduk Islam ini. Mereka(muslimin)
juga tidak sempat untuk menaiki kapal
kerana semuanya dibakar.

Pihak Kristian kemudiannya menyerang kaum
muslim dan membunuh kesemuanya,
lelaki, perempuan, serta anak-anak
kecil. Peristiwa berdarah yang
menyedihkan ini kemudiannya diraikan
oleh tentera Kristian.

Keraian ini akhirnya dirayakan setiap
tahun bukan sahaja di Sepanyol tetapi
juga di serata dunia. Yang
menyedihkan, orang-orang Islam yang
jahil mengenai peristiwa ini turut
meraikan April Fool's Day (Hari kaum
Muslim Spanyol 'difooled' -dibunuh
semuanya) tanpa menyedari mereka
sebenarnya merayakan ulang tahun
pembunuhan beramai-ramai saudara
seIslam mereka sendiri.

Semoga Allah sentiasa membuka pintu taubat untuk
kita.

INFO: Generasi Robbani

Perkataan ribbiyy dan rabbaniyy sebenarnya merujuk kepada segolongan manusia yang mempunyai ilmuyang luas lagi mendalam khususnya tentang agama, beramal dengan tulus ikhlas untuk mencari keredaan Allah SWT dan menyebarkan kebenaran dengan penuh kesabaran. Di dalam Al Quran Allah SWT menyebut tentang golongan ini di empat tempat :

  • Surah Al Imran ayat 146, Allah SWT berfirman, bermaksud :

"Berapa banyak dari nabi-nabi ( dahulu ) telah berperang dengan disertai oleh orang-orang yang taat kepada Allah, maka mereka tidak merasa lemah semangat akan apa yang menimpa mereka pada jalan (agama) Allah, dan mereka juga tidak lemah tenaga dan tidak pula mahu tunduk ( kepada musuh ). Dan ingatlah Allah sentiasa mengasihi orang yang sabar".


  • Surah Al Maidah, ayat 44. Allah SWT berfirman, bermaksud :

“ Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat, yang mempunyai petunjuk dan cahaya yang menerangi ; dengan kitab itu nabi-nabi yang menyerah diri ( kepada Allah ) menetapkan hukum-hakam bagi orang-orang Yahudi dan (dengannya juga), ulama-ulama mereka dan pendita-pendita mereka (menjalankan hukum Allah) sebab mereka diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari kitab Allah (Taurat) itu, dan mereka pula ialah menjadi penjaga dan pengawasnya ( dari sebarang perubahan ). Oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu takut kepadaKu ( dengan memelihara diri daripada melakukan maksiat dan patuh akan perintahku ) ; dan janganlah kamu menjual ( membelakangkan ) ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit ( kerana mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan dunia ) dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya) maka mereka itulah orang-orang kafir.”

  • Surah Al Maidah, ayat 43 Allah SWT berfirman yang bermaksud :

“ Alangkah baiknya kalau ketua-ketua agama dan pendita mereka melarang mereka dari mengeluarkan perkataan-perkataan yang dusta dan dari memakan yang haram! Sesungguhnya amatlah buruk apa yang telah mereka kerjakan.”

  • Surah al Imran, ayat 7 Allah SWT berfirman bermaksud :

“ Tidak patut bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya agama dan hikmah serta pangkat nabi kemudian ia tergamak mengatakan kepada orang ramai hendaklah kamu menjadi orang yang menyembahku dengan meninggalkan penyembahan Allah tetapi hendaklah kamu menjadi orang yang rabbaniyyin ( yang menyembah Allah semata-mata dengan ilmu dan amal yang sempurna ) kerana kamu sentiasa mengajarkan isi kitab Allah itu, dan kerana kamu selalu mempelajarinya .” ( Pimpinan al- Rahman kepada Pengertian al-Quran ).

Pada hari kematian Abdullah ibn Abbas r.a, telah berkata Muhamad ibn Ali ibn Hanafiyah ; hari ini telah meninggallah seorang rabbaniyy dari umat ini. Ibn Abbas r.a memang terkenal di kalangan sahabat mengenai kedalaman dan keluasan ilmunya, adalah wajar digelar insan rabbaniyy. Telah diriwayat dari Saidina Ali r.a : Manusia itu tiga golongan, alim yang rabbainyy, penuntut ilmu atas jalan kejayaan dan orang yang hina pengikut segala panggilan ( keburukan ). Sibawaih adalah seorang ahli bahasa berpendapat ditambah huruf alif dan nun pada perkataan ribbiyy lalu menjadi rabbaniyy menunjukkan mereka adalah golongan yang sangat mendalam ilmunya tentang ketuhanan. ( Lisan al Arab ).

Di dalam al Taalim Imam Al Banna telah menegaskan bahawa usaha mestilah dilakukan untuk membentuk diri agar menjadi insan kamil yang mempunyai aqidah yang sejahtera, ibadah yang sahih, akhlak yang mantap, fikiran yang berasaskan ilmu, tubuh yang kuat, hidup yang berdikari, diri yang berjihad, masa yang dihargai, tugas yang tersusun dan sentiasa memberi manfaat kepada orang lain. ( Risalat al-Taalim, rukun al-Amal )

As Sayhid Syed Qurb di dalam rumusannya mengenai generasi al Quran yang unik ( iaitu generasi para sahabat Rasulullah SAW ) menjelaskan tiga ciri penting yang telah menjadikan mereka generasi unggul yang lahir dari madrasah Rasulullah SAW. Pertama, mereka sentiasa membersihkan diri dari segala unsur jahiliyyah, kedua sumber rujukan mereka yang agung ialah Al Quran al Karim, ketiga apa yang dipelajari adalah untuk diamalkan. ( Petunjuk Sepanjang Zaman )

Kelahiran generasi ini adalah disebabkan adanya manhaj yang sahih, murabbi bertakwa yang mempunyai keluasan dan kedalaman ilmu pengetahuan di samping suasana subur di dalam keluarga, institusi pendidikan, masyarakat dan negara. Usaha melahirkan kembali generasi ini di akhir zaman adalah usaha suci dan memerlukan pengorbanan diri, masa dan harta.