Friday, September 19, 2008

Al Qardawi Menjelaskan Manhaj Pemikiran Salafi

Oleh: Dr. Yusuf al-Qaradhawi

Sumber: Media Isnet


Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut:

1)Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.

2)Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.

3)Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.

4)Menyerukan “Ijtihad” dan pembaharuan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.

5)Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiyyah, bukan meniru trend.

6)Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.

7)Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.

8)Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.

9)Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya semata.

10)Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Citra “Salafiyyah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah “Salafiyyah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf.

Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metode “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiyyah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiyyah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiyyah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiyyah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiyyah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beserta muridnya Imam Ibn Qoyyim al-Jauziyyah .Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan "pembaharuan Islam" pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakupi seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l - malaam ‘anil - A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyyah.

Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawwuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari (baca:ada-editor) tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar al-Imam Ibnu Taimiyyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka

Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal yang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.

Inilah sikap peribadi saya terhadap kedua Imam tersebut, yakni al-Imam Ibnu Taimiyyah dan Ibn Qoyyim al-Jauziyyah. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara objektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim

Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyyah yang pernah menuturkan kata-kata:

"Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia."

Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan:

"Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid."

Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibn Qoyyim al-Jauziyyah. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiyyah” yang sesungguhnya.

Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiyyah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa misi “salafiyyah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiyyah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiyyah”nya.

Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan al-Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :

“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

____________________________

(disalin dari buku “Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah” karya Dr.Yusuf Al Qaradhowi, edisi terjemahan Penerbit Usamah Press)

Dinukil (dengan sedikit suntingan oleh Ibn Mustofa): http://al-fikrah.net/News/article/sid=165.html

Sunday, September 14, 2008

Ukhuwah

Oleh Azrul Baharun

Seringkali kita terfikir dan kadangkala kita terlupa bilakah kita mula berkenal dengan sahabat kita, di manakah mulanya ukhuwah itu terjalin, dan macam-macam lagi persoalan asas mengenai bagaimana sesuatu perhubungan itu mula tercetus.

Artikel kali ini di tulis sebagai panduan untuk ikhwah wa akhwat, supaya mula mencari di mana titik mulanya sesuatu persahabatan atau ukhuwah itu terjalin. Ini kerana kebiasaannya kita tidak pernah menghargai sesuatu yang kita miliki itu sehinggalah kita sedar betapa susahnya kita mendapatkannya. Sesuatu yang saya maksudkan di sini ialah ukhuwah islamiyyah.

Bagaimanakah ukhuwah itu boleh terjalin? Ada beberapa sebab bagaimana ia bermula. Pertamanya adalah dengan mengucapkan salam dan memberikan senyuman. Melalui beberapa pengalaman saya, salam dan senyuman memang memainkan peranan penting dalam memulakan sesuatu perhubungan. Kadangkala apabila berkunjung ke masjid kerapkali kita lihat beberapa jemaah yang memang kita kenali wajahnya, pakaiannya, malahan kopiah yang di pakainya juga lekat di dalam fikiran kita. Tetapi bila di tanya lanjut namanya kita mula buntu. Seringkali juga kita mengelaskan seseorang jemaah di masjid itu berdasarkan warna bajunya, kopiahnya dan lain-lain lagi. Jadi, ikhwah wa akhwat, mulakanlah perhubungan dengan salam dan senyuman. Biarpun kita jarang-jarang senyum, mahu atau tidak kita kerapkali tunduk atau kalah dengan senyuman atau salam orang lain.

Sabda Rasulullah SAW,

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan, jalinlah hubungan kekerabatan, dan kerjakanlah sholat di waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, nescaya kalian akan masuk syurga dengan damai”

* Hadith shohih di riwayatkan oleh Imam Ahmad (23272), Tirmidzi (2485), Ibnu Majah (3251) dan Darimi (1460) dari Abdulloh bin Salam. Lihat Al-Misykat (1907)

Bagi umat Islam, kita tidak payah menggantikan ucapan salam kita dengan pelbagai bentuk salam mengikut waktu yang berbeza-beza. Ahlan, kaifa ashbahta, ahlan wa sahlan, atau shobahu’l khoir adalah contoh bentuk salam yang kerapkali di gunakan. Memadailah dengan ucapan “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” (Semoga kedamaian, rahmat Allah dan barkahnya tercurah atas kalian).

Ikhwah wa akhwat yang di rahmati Allah.

Senyuman juga adalah satu pelengkap kepada salam yang di ucapkan. Salam yang di iringi dengan senyuman bakal mempamerkan keikhlasan si pemberi salam.

Sabda Rasulullah SAW,

“Senyum yang engkau berikan kepada saudaramu adalah sedekah”

* Hadith shohih di riwayatkan oleh Tirmidzi (1956), dan Ibnu Hibban (529) dari sahabat Abu Dzar. Lihat Al-Misykat (1911)

Selain daripada itu, ukhuwah juga boleh terjalin dengan mendoakan saudara kita dari kejauhan tanpa pengetahuan orang yang di doakan. Ini adalah kerana sebaik-baik doa untuk saudara kita adalah doa yang kita panjatkan tanpa sepengetahuan dirinya atau sebaliknya.

Besarnya pahala kita mendoakan saudara kita adalah sama pahalanya seperti orang yang di doakan. Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepada putara Imam Syafii setelah Imam Syafii meninggal dunia, “Ayahmu termasuk tujuh orang yang aku doakan pada waktu sahur”.

Ketahuilah bahawa jika engkau mendoakan saudaramu sesame muslim, maka akan ada seorang malaikat yang berkata, “Dan engkau juga mendapatkan pahala yang sama.”

Ikhwah wa akhwat yang dirahmati Allah,

Hadith shohih ada menyebutkan,

“Bahawa ada seorang yang mengunjungi saudaranya di negeri lain. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk mengikuti orang tersebut. Ketika malaikat ini sudah bertemu dengannya ia berkata kepadanya, “Kemana engkau hendak pergi?” Ia menjawab, “Aku ingin mengunjungi saudaraku di negeri itu.” Malaikat bertanya lagi, “Apakah kerana engkau memiliki harta yang di urusolehnya?” Ia menjawab, “Tidak, tapi aku mencintainya tidak lain kerana Allah.” Malaikat itu berkata, “Ketahuilah bahwa sebenarnya aku ini adalah utusan Allah untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa Allah juga mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu.”

* Diriwayatkan oleh Muslim (2567) dari Abu Hurairah.

Maka di sini dapat di simpulkan bahawa mengunjungi saudara kerana Allah menjadi antara sebab bagaimana ukhuwah itu mampu terjalin dan di perkukuhkan. Ini termasuklah menziarahi saudara yang sakit atau uzur.

Sabda Rasulullah SAW,

“Barangsiapa mengunjungi orang yang sakit, maka ia senantiasa berada di kebun buah surga yang siap di petik sehingga ia pulang.”

* Diriwayatkan oleh Muslim(2568) dari Tsauban.

Tahukah kita ikhwah wa akhwat yang di rahmati Allah, akan menjalin silaturrahim adalah antara amalan yang paling agung yang akan menambah umur dan memberkahi hidup ini. Manakala tahukah juga kita akan amalan yang bisa mengeruhkan hidup, mengotori kecintaan dan mengeraskan hati dan menyia-nyiakan hidup adalah memutuskan silaturrahim?

Oleh itu ikhwah wa akhwat, sama-samalah kita menjaga silaturrahim yang terjalin. Tidak kiralah bagaimana rupanya atau apakah fikrahnya silaturrahim itu wajib di pelihara.

Dalam satu riwayat, seseorang datang menghadap Rasulullah SAW, seraya berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya punya kerabat yang selalu aku hubungi, namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku selalu berbuat baik kepada mereka, namun mereka justeru berbuat buruk kepada terhadapku. Aku bersikap sabar terhadap mereka, namun mereka berbuat jahil terhadapku. Lalu apa yang mesti aku lakukan?”

Rasulullah menjawab, “Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka seakan-akan engkau sedang memberi makan abu panas kepada mereka. Engkau akan selalu mendapat seorang penolong dari Allah selama engkau berbuat seperti itu.”

* Diriwayatkan oleh Muslim (2558) dari Abu Hurairah

Selain daripada itu antara elemen yang penting dalam ukhuwah islamiyyah adalah memberi maaf. Pentingnya memberi maaf ini adalah kerana dengan memberi maaf sesuatu ukhuwah itu mampu di perbaiki, malahan tidak keterlaluan jika di katakan memberi maaf mampu menjalin ukhuwah. Sebagaimana Ibnu Katsir dan ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa Ibnu Zubair memiliki sebuah ladang di kota Madinah, sedangkan Mu’awiyah memiliki ladang juga di samping ladang milik Ibnu Zubair.

Para pegawai Mu’awiyah memasuki ladang Ibnu Zubair sehingga menyebabkannya marah dan menulis surat kepada Mu’awiyah dengan mengatakan, “Wahai Ibnu Akitilatil Akbad (anak pemagsa hati manusia)! Engkau mahu mencegah para pegawaimu dari memasuki ladangku, atau pilih berurusan denganku?!”

Mu’awiyah membaca surat itu, yang ternyata berisi amarah dari seorang rakyat biasa sedangkan ia adalah seorang raja. Ia berkata kepada putranya yaitu Yazid, “Bagaimana pendapatmu?”

Yazid menjawab, “Menurutku engkau kirimkan saja pasukan perang yang di pangkalnya berada di Madinah sedangkan hujungnya berada di sisi paduka, sehingga mereka akan membawanya ke hadapanmu!”

Mu’awiyah berkata, “Tidak! Aku justeru akan lebih mendekatkan hubungan tali silaturrahim dengannya!”

Akhirnya Mu’awiyah menulis surat kepada Ibnu Zubair, “dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan kepada putra dari pengikut setia Rasulullah SAW dan putra dari wanita pemilik dua ikat pinggang. Assalmualaikum wa rahmatullohi wa barakatuh. Amma ba’d. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi kecuali Dia. Jika yang menjadi persoalan antara diriku denganmu adalah persoalan dunia, maka tentu sangat sepele bagiku. Maka jika suratku ini sudah sampai kepadamu,ambillah seua pekerjaku berikut ladangnya!”

Setelah membaca isi surat itu, Ibnu Zubair pun menangis hingga surat itu basah oleh air matanya. Ia pun berangkat ke Damaskus dan mencium kepala Mu’awiyah seraya berkata, “Sehingga Allah mengekalkanmu dengan kecerdasan akal yang engkau miliki, sebagai seorang Quroisy yang menduduki jabatan (kholifah) ini.”

Kita lihat bagaimana dari kisah tersebut, perbuatan memberi maaf itu dapat menjalin ukhuwah.

Firman Allah SWT,

“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (3:134)

Sesiapa saja mahu memaafkan tindakan kedzaliman yang di lakukan oleh seseorang terhadap dirinya, maka Allah akan mewariskan kepadanya kemuliaan dan keperkasaan di dunia dan di akhirat.

Oleh itu ikhwah wa akhwat, jaga dan peliharalah seta suburkanlah ikatan ukhuwah yang telah terbina. Jangan sesekali kita memutuskan tali silaturrahim yang telah terjalin. Dan yang paling utama, berkasihlah semata-mata kerana Allah SWT.

Tuesday, September 9, 2008

Lanun vs MISC

terbaca berita mengenai penawanan anak kapal malaysia yang juga merupakan krew kapal MISC menarik minat aku. lantas aku cari keratan akhbar mengenai insiden penawanan ini. SAMA-SAMA KITA DOA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA DEMI KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN ANAK KAPAL MALAYSIA DAN FILIPINA YANG DI TAWAN. semoga mereka dapat menunaikan ibadah puasa dan beramal seperti selalunya. amin..

==================================================================

MISC beri jaminan jaga kebajikan anak kapal dan ahli keluarga

KUALA LUMPUR: MISC akan bertanggungjawab terhadap keperluan dan kebajikan ahli keluarga anak kapal miliknya yang ditahan lanun di Teluk Aden, Somalia, sejak 19 Ogos lepas, kata Pengurus Besar Jabatan Perhubungan Korporat MISC, Fiona Clare Pereira.

Beliau berkata MISC akan membantu ahli keluarga anak kapal mendapatkan maklumat berhubung insiden itu dan memastikan kebajikan mereka terjamin.

“Kita harap semua ahli keluarga bersabar dan kita janji akan tunai segala keperluan mereka sebaik-baiknya. Kita amalkan polisi mengutamakan soal menjaga kebajikan setiap pekerja termasuk kepada ahli-ahli keluarga yang terbabit,” katanya ketika dihubungi di sini hari ini.

Pada 19 Ogos lalu, sebuah kapal MISC iaitu kapal MT Bunga Melati 2 dengan 29 anak kapal rakyat Malaysia dan 10 warga Filipina, dirampas oleh lanun di perairan tersebut menyebabkan seorang anak kapal dari Filipina terbunuh terkena peluru sesat.

Sepuluh hari kemudian, sebuah lagi kapal milik MISC, Bunga Melati 5, dengan 36 anak kapal rakyat Malaysia dan lima warga Filipina turut dirampas di perairan sama ketika dalam pelayaran dari Yanbu, Arab Saudi, ke Singapura.

Pereira berkata berdasarkan maklumat awal, kesemua anak kapal berada dalam keadaan selamat dan rundingan pembebasan masih berjalan.

“Kami harap keluarga mangsa beri kerjasama dan bertenang. Kita faham dan sedang berusaha untuk pastikan anak-anak kapal berkenaan dibebaskan dengan segera. Bagaimanapun, kita tidak dapat ramalkan bila ia akan selesai,” katanya.

Setiausaha Majlis Keselamatan Negara (MKN) Datuk Muhamad Hatta Abdul Aziz berkata ketiga-tiga kapal milik Tentera Laut Diraja Malaysia dalam operasi melindungi lima kapal MISC yang belayar di teluk itu telah sampai di sana dan bersedia untuk menjalankan operasi. - Bernama

===================================================================

Bapa kepada anak kapal minta elakkan operasi tentera untuk bebaskan kapal

JOHOR BAHARU: Bapa kepada seorang anak kapal milik Perbadanan Perkapalan Antarabangsa Malaysia (MISC) Berhad yang dirampas lanun di perairan Teluk Aden 29 Ogos lepas, Abdul Jabar Abdul Hadi berharap pihak berkuasa Malaysia mengelak daripada melancarkan operasi ketenteraan bagi membebaskan anak-anak kapal itu.

Anak beliau, Rizal Shah, 30, adalah antara 39 anak kapal Bunga Melati Dua - 29 warga Malaysia, sembilan Filipina dan seorang Pakistan yang ditahan lanun itu.

Abdul Jabar bimbang kumpulan lanun tersebut akan mengancam keselamatan anak-anak kapal jika tindakan ketenteraan dilancarkan.
“Kita tidak mahu keselamatan anak-anak kapal diapa-apakan. Saya bimbangkan jika ada operasi tentera, lanun-lanun itu akan bertindak balas dengan mengancam nyawa anak-anak kapal,” kata pesara Percetakan Nasional itu kepada Bernama ketika ditemui di kediamannya di sini, hari ini.
Sejurus selepas peristiwa rampasan dua kapal MISC, kerajaan telah menghantar tiga buah kapal perang termasuk pasukan komandonya ke perairan Teluk Aden untuk melindungi kapal-kapal tersebut.

Kapal-kapal itu ialah Friget KD Lekiu; kapal peronda generasi baru KD Pahang; serta KD Sri Inderapura.

Sementara itu, Fuziah Salleh, 50, ibu kepada Rizal Shah, berkata anaknya memberitahunya bahawa beliau (Rizal Shah) dan anak-anak kapal yang lain dikawal gerak geri mereka oleh sekurang-kurangnya 10 orang bersenjata pada setiap masa.

“Perbualan kami berlangsung amat singkat, tetapi saya sempat bertanyakan kepada beliau tentang keadaannya” katanya.

“Rizal juga meminta rundingan untuk membebaskan mereka dilaksanakan dengan cepat kerana bekalan makanan di dalam kapal sudah hampir kehabisan,” kata Fuziah.

Menurut Fuziah, anaknya turut memberitahu bahawa beliau adalah anak kapal yang keempat diberikan peluang menghubungi keluarga pada hari tersebut oleh kumpulan lanun berkenaan.

Kapal itu yang kedua milik MISC dirampas oleh lanun di perairan yang sama selepas kejadian sama berlaku terhadap kapal Bunga Melati Dua pada 19 Ogos.

Menurut Fuziah, Rizal juga menyatakan kesemua telefon bimbit serta komputer riba milik anak-anak kapal itu telah dirampas.

Ibu kepada empat orang anak itu juga berkata, apa yang lebih menyedihkan adalah tahun ini sepatutnya kali pertama anaknya dapat bersama mereka sekeluarga menyambut Aidilfitri sejak mula bekerja dengan MISC enam tahun lepas.

Rizal, masih bujang, menyertai MISC pada Mac 2002, sejurus selepas menamatkan pengajiannya di Akademi Laut Malaysia (ALAM), di Masjid Tanah, Melaka. - Bernama

====================================================================

MKN pantau perkembangan anak kapal MISC

KUALA LUMPUR: Majlis Keselamatan Negara (MKN) yang memantau perkembangan 65 anak kapal MISC Bhd (MISC) sejak ditawan lanun di Asia Barat pada 19 Ogos dan 29 Ogos lalu, mendapati mereka berada dalam keadaan selamat dan tidak menerima ancaman nyawa.

Setiausaha MKN, Datuk Muhamad Hatta Abdul Aziz, berkata pihaknya sentiasa berkomunikasi dengan beberapa pihak tertentu bagi memantau keadaan semua anak kapal itu selain berusaha untuk menyelamatkan mereka.

Beliau bagaimanapun berkata, proses rundingan untuk membebaskan kesemua anak kapal itu yang kini dijadikan tebusan oleh lanun berkenaan akan mengambil sedikit masa dan ia tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.
“Perbincangan akan mengambil sedikit masa kerana ia membabitkan pelbagai pihak. Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam hal ini dan ia tidak boleh dilakukan dalam sekelip mata kerana membabitkan lanun di perairan antarabangsa.

“MKN ingin tegaskan di sini bahawa kerajaan sentiasa memantau keadaan anak-anak kapal kita,” katanya kepada Berita Harian, semalam.

Sementara itu, Ketua Pusat Laporan Kegiatan Lanun Biro Maritim Antarabangsa (IMB), Noel Choong, berkata kebiasaannya rundingan dengan kumpulan lanun itu mengambil masa lebih sebulan sebelum anak kapal terbabit dibebaskan.

“Kumpulan lanun ini dalam banyak kes sebelum ini selalunya tidak akan mencederakan anak kapal kerana tujuan mereka sebenarnya adalah untuk mendapatkan wang saja,” katanya ketika dihubungi di sini, semalam.

==================================================================

TLDM hantar pasukan khas lindungi anak kapal MISC

KUALA LUMPUR: Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) semalam menghantar pasukan khas ke Teluk Aden di Yaman dan Somalia bagi melindungi empat kapal MISC Bhd yang sedang berlayar di perairan teluk itu.

Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Razak, berkata pasukan itu akan mengiringi kapal berkenaan bagi mengelak serangan lanun.

“Keutamaan kita ialah menjaga keselamatan kelasi dan kapal kita,” katanya selepas melancarkan kenderaan pelbagai guna (MPV) Eastar keluaran Chery Automobile Sdn Bhd di sini.
Beliau yang juga Menteri Pertahanan mengulas perkembangan terkini kes rampasan dua kapal MISC di Teluk Aden dan kini masih ditahan lanun di perairan itu.
MT Bunga Melati Lima bersama 41 anak kapal, termasuk 36 rakyat Malaysia dan lima lagi Filipina ditawan lanun pada Jumaat lalu di luar pantai Yaman.

Sepuluh hari sebelum itu, MT Bunga Melati Dua yang membawa 39 anak kapal termasuk 29 rakyat Malaysia ditawan lanun di luar pantai Somalia.

Najib berkata, MT Bunga Melati Dua kini berlabuh di bandar Garacad, Somalia, kira-kira 4.5 batu nautika dari pantai, manakala MT Bunga Melati Lima di bandar Eyl, Somalia, kira-kira enam batu nautika dari pantai.

Beliau berkata, kedua-dua kapal berkenaan berada pada jarak 40 batu nautika antara satu sama lain.

“Setakat ini rundingan sedang berjalan dengan pihak perampas dan belum ada sebarang penyelesaian dicapai. Kita yakin komunikasi dengan kapal MT Bunga Melati Lima akan dapat dibuat lewat petang ini (semalam),” katanya.

Najib bagaimanapun berkata, kerajaan tidak akan terbabit dengan rundingan membayar wang tebusan, sebaliknya ia dilakukan MISC.

“Kita akan mengikut peraturan dan lunas undang-undang antarabangsa,” katanya.

Najib juga berkata, MISC wajar mempertimbangkan untuk mengubah laluan kapalnya berikutan Teluk Aden terlalu bahaya kerana dipenuhi lanun hinggakan kapal milik negara lain turut dirampas.

Sementara itu, MISC dalam satu kenyataannya menjelaskan syarikat itu menghentikan serta merta pelayaran semua kapalnya ke Teluk Aden sehingga langkah keselamatan tambahan dilaksanakan bagi meningkatkan tahap keselamatan semua kapal dan anak kapalnya.

===================================================================

MISC, lanun terus runding tebusan

Oleh Anwar Hussin dan Zulhilmi Hat
bhnews@bharian.com.my

Butir usaha bebas anak kapal tak boleh didedah

KUALA LUMPUR: Datuk Seri Najib Razak, berkata rundingan masih diteruskan antara pihak MISC Bhd (MISC) dengan kumpulan lanun yang merampas dua kapal tangki milik syarikat itu bagi membebaskan 65 anak kapalnya yang dijadikan tebusan.

Timbalan Perdana Menteri berkata, beliau tidak boleh mendedahkan butiran terperinci rundingan itu yang ditawan kumpulan lanun di perairan Teluk Aden di Asia Barat dalam dua kejadian berasingan masing-masing 19 Ogos dan 29 Ogos lalu.
Beliau berkata, sebarang pendedahan terhadap butiran rundingan pembebasan tebusan yang sedang dilakukan itu dikhuatiri akan menjejaskan proses menyelamatkan warga Malaysia yang menjadi tebusan dalam insiden terbabit.
“Kita serahkan kepada pihak terbabit, saya tidak boleh dedahkan apa-apa kerana nanti akan menjejaskan usaha menyelamatkan anak kapal kita,” katanya pada sidang media selepas melancarkan majlis pelancaran Rakan Cop Program Latihan Khidmat Negara (PLKN), di sini, semalam.

Najib yang juga Menteri Pertahanan diminta mengulas mengenai status terkini rundingan yang dijalankan oleh MISC dengan kumpulan lanun yang merampas dua kapalnya di Teluk Aden dan kini masih berada di perairan itu.

MT Bunga Melati Lima bersama 41 anak kapal, termasuk 36 rakyat Malaysia dan lima lagi Filipina ditawan lanun pada Jumaat lalu di luar pantai Yaman. Sepuluh hari sebelum itu, MT Bunga Melati Dua yang membawa 39 anak kapal termasuk 29 rakyat Malaysia turut ditawan.

Sementara itu, Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), mengesahkan beberapa aset ketenteraannya sudah dihantar ke Teluk Aden bagi melindungi lima kapal MISC daripada ancaman lanun.

Bercakap selepas menyaksikan upacara serah dan terima tugas antara Panglima No 1 Divisyen Udara Mejar Jeneral Datuk Jusof Embong dengan Mejar Jeneral Datuk Roslan Saad TUDM Pangkalan Udara di sini, Panglima Operasi Udara, Leftenan Jeneral Datuk Rodzali Daud, berkata aset ketenteraan milik TUDM seperti unit logistik sudah bergerak ke kawasan perairan Asia Barat bagi membantu operasi melindungi kapal yang melalui perairan itu.

===================================================================

Tukar syif terselamat kena culik

Oleh Ifwan Tun Tuah dan Petah Wazzan Iskandar
bhnews@bharian.com.my


BERNASIB BAIK: Mohd Felani menunjukkan keratan akhbar mengenai laporan serangan lanun.

Anak kapal tidak jadi tebusan lanun selepas perubahan waktu kerja 28 Julai

KUALA LUMPUR: Pertukaran syif sebulan lebih awal menyelamatkan Mohd Felani Feiyed Mohd Khalid, 22, daripada turut menjadi tebusan kapal MT Bunga Melati 2 yang ditawan lanun di Teluk Aden, Somalia, 19 Ogos lalu.

Mohd Felani berkata, giliran tugasnya dijadualkan tamat pada bulan ini, namun pengurusan memberi arahan pertukaran pada 28 Julai lalu, iaitu 22 hari sebelum MT Bunga Melati 2 dirampas lanun.
Beliau yang ditempatkan di atas kapal MT Bunga Melati 2 sejak mula bekerja lima bulan lalu terkejut dengan kejadian itu, namun bersyukur tidak berada di atas kapal terbabit.
“Saya mendarat pada 28 Julai lalu di Lahad Datu, Sabah selepas berlayar kira-kira lima bulan dan hanya mengetahui mengenai rampasan kapal melalui laporan media, akhir bulan lalu.

“Saya sangat terkejut tapi bersyukur. Bagaimanapun saya bersimpati dengan rakan yang masih berada di atas kapal dan sentiasa mendoakan keselamatan mereka,” katanya ketika ditemui di rumahnya di Taman Setiawangsa di sini, semalam.

Pada 19 Ogos lalu, kapal milik MISC Bhd, MT Bunga Melati 2 yang dalam pelayaran dari Dumai, Indonesia ke Rotterdam, Belanda yang membawa minyak sawit, dirampas di Teluk Aden, bersama 39 anak kapal termasuk 29 rakyat Malaysia.

Sepuluh hari kemudian, sebuah lagi kapal MISC, MT Bunga Melati 5 bersama 41 anak kapal termasuk 36 warga Malaysia, dirampas di lokasi sama.

Mengulas lanjut, Mohd Felani yakin anak kapal MT Bunga Melati 2 dan MT Bunga Melati 5 akan selamat kerana semua mereka sering menjalani latihan menghadapi serangan lanun di dalam kapal.

“Kami sudah dibiasakan dengan keadaan serangan lanun olok-olok dan apa yang perlu dilakukan dalam keadaan sebegitu. Harapnya semua selamat dan tidak dicederakan,” katanya.

Bapanya, Mohd Khalid Abu Hassan, 55, berkata pagi tadi (semalam) beliau menerima banyak panggilan telefon dari keluarga di Kedah bertanyakan nasib Mohd Felani selepas namanya turut keluar dalam senarai anak kapal yang disiarkan akhbar.

“Saya menceritakan Mohd Felani selamat kerana giliran tugasnya di atas kapal tamat awal,” katanya.

===================================================================

ATM belum diarah bantu bebas 65 tawanan lanun

Oleh Sazarina Shahrim dan Zulhilmi Hat
hilmi@bharian.com.my

Dua kapal perang dihantar ke perairan Asia Barat pantau keadaan

KUALA LUMPUR: Angkatan Tentera Malaysia (ATM) belum menerima sebarang permohonan daripada kerajaan atau syarikat perkapalan negara, MISC Bhd untuk membebaskan 65 anak kapal Bunga Melati Dua dan Bunga Melati Lima yang dirampas lanun di Teluk Aden pada 19 dan 29 Ogos lalu.

Panglima Angkatan Tentera Malaysia (ATM), Tan Sri Abdul Aziz Zainal, bagaimanapun berkata pihaknya sudah menghantar dua kapal perang Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) ke perairan Asia Barat bagi memantau keadaan.
“Kita belum dapat permohonan untuk angkatan tentera melaksanakan apa-apa urusan membabitkan penculikan itu, jadi kita hanya pantau keadaan saja,” katanya selepas hadir di majlis penyerahan bungkusan Hari Raya Puasa oleh Badan Amal dan Kebajikan Tenaga Isteri-Isteri Menteri dan Timbalan Menteri (Bakti) kepada pasukan keselamatan Malaysia di sini, semalam.
Sebanyak 18,000 kotak diagihkan kepada ATM, 10,000 kepada Polis Diraja Malaysia (PDRM) dan 2,000 kepada Agensi Penguatkuasaan Maritim (APMM).

Pada 19 Ogos lalu, MT Bunga Melati Dua yang dalam pelayaran dari Dumai, Indonesia ke Rotterdam, Belanda dengan membawa 32,025 tan minyak sawit dirampas lanun di pesisir Pantai Somalia bersama 39 anak kapal termasuk 29 rakyat Malaysia.

Jumaat lalu, kapal kedua, Bunga Melati Lima dirampas bersama 41 anak kapal termasuk 36 warga Malaysia dalam perjalanan dari Singapura ke Yanbu, Arab Saudi, di perairan luar pantai Yemen.

Difahamkan, kumpulan lanun yang menawan Bunga Melati Dua menuntut wang tebusan RM10 juta sebagai syarat membebaskan tahanan itu.

Abdul Aziz berkata, susulan kejadian ini, dua kapal perang TLDM sudah dihantar ke perairan Asia Barat sejak Sabtu lalu bagi memantau keadaan.

“Saya sahkan kita hantar dua kapal perang ke sana, tetapi tugas kita hanya memantau saja,” katanya.

Katanya, difahamkan MISC sedang berusaha menyelesaikan masalah itu melalui saluran diplomasi dan perundingan.

Susulan rampasan kapal itu, Abdul Aziz memberi jaminan keselamatan perairan negara terkawal.

Sementara itu, Presiden yang juga Ketua Pegawai Eksekutif MISC, Datuk Shamsul Azhar memberi jaminan akan sentiasa memaklumkan mengenai perkembangan terkini anak kapalnya yang ditawan kumpulan lanun di Asia Barat kepada keluarga masing-masing selain mengutamakan keselamatan mereka.

Dalam kenyataan dikeluarkan di sini, semalam, beliau berkata, pihaknya sudah mengatakan demikian dalam pertemuan dengan anggota keluarga anak kapal itu baru-baru ini.

“Mereka melahirkan rasa bimbang terhadap spekulasi dan laporan negatif media serta meminta pihak media tidak berbuat demikian,” katanya.

===================================================================

26 anak kapal ditawan hadapi bahaya kebuluran

Bekalan makanan hampir habis, mangsa minta keluarga solat hajat

KOTA BHARU: Seorang daripada anak kapal MH Melati 5 yang ditahan sekumpulan lanun di Teluk Aden, Somalia, mendedahkan mereka kini berhadapan dengan ancaman kebuluran berikutan bekalan makanan hampir putus.

Khatijah Yusoff, 53, ibu kepada Mohd Nazri Mat Salleh, 22, berkata ketika dihubungi anaknya melalui telefon kelmarin, dia memberitahu bekalan makanan di atas kapal itu hampir kehabisan.
“Dia minta saya memberitahu kepada pejabatnya jika kakitangan pejabat menghubungi saya supaya menghantar bekalan makanan,” katanya ketika ditemui di rumahnya di Kampung Kerasak Limbat di sini, semalam.
Dalam kejadian 29 Ogos lalu, 26 anak kapal MH Melati 5 milik MISC dalam perjalanan dari Dumai, Indonesia ke Belanda membawa muatan minyak ditawan sekumpulan lanun bersenjata api dan meminta tebusan.

Kejadian itu yang kedua berlaku dalam tempoh 10 hari selepas sekumpulan 39 anak kapal MH Melati Dua ditawan di persisiran Pantai Somalia pada 19 Ogos yang kini belum pasti kedudukannya.

Khatijah berkata, selain meminta makanan anaknya juga meminta keluarga di kampung menunaikan solat hajat memohon kepada Tuhan supaya keselamatannya terjamin dan dapat pulang ke pangkuan keluarga dalam masa terdekat.

“Dia (Mohd Nazri) juga memberitahu semua anak-anak kapal berada di dalam keadaan sihat dan tidak membimbangkan,” katanya. - Bernama

==================================================================